Senin, 30 Mei 2022

Pendidikan Keluarga Terhadap Pembentukan Kepercayaan Diri Anak

PENDIDIKAN KELUARGA TERHADAP PEMBENTUKAN KEPERCAYAAN DIRI ANAK

Oleh Riri Novrianti Mahasiswa PLS UNP 2019

 

Bagi anak, lingkungan pertamanya adalah keluarga. Dalam keluarga merupakan suatu tahap pertama dalam mempelajari dunia. Pola asuh yang baik dalam keluarga merupakan pondasi pertama yang dimiliki anak dalam hidupnya jadi penting bagi orang tua untuk senantiasa belajar dalam mendidik dan mengasuh anak-anaknya karena orang tua adalah guru pertama bagi anak. Pola asuh yang diterima anak sama dengan doktrin yang ditanamkan sejak dini dalam kehidupan anak. Jadi, pola pikir, cara berperilaku, cara berbicara hal tersebut berawal dari didikan orang tua.
    Orang tua sebagai pendidik yang paling utama dengan memberikan pola pengasuhan yang diterapkan dalam keluarganya. Orang tua memiliki peran penting dan strategis dalam menentukan kearah mana anak melangkah dan kepribadian anak akan dibentuk (Djamarah, 2014 : 44)  

    Banyak masalah anak yang menjadi pemicu rasa pesimis tinggi, misalnya kegagalan yang dialami, cemoohan, bahkan kesalahan orang lain yang ditimpakan padanya. Anak-anak adalah fase yang rentan, kesalahan menanggapi dan menyikapi dapat menjadi masalah serius. Contoh ketika anak gagal dalam bidang akademik, jangan sekali-kali katakan “kamu anak yang bodoh, Cuma seperti ini saja tidak bisa, kamu tidak berbakat, kamu tidak berkompeten dan lain sebagainya”. Kata-kata tersebut merupakan kekerasan verbal yang berdampak buruk dalam kejiwaan anak. Anak akan meyakini bahwa dirinya adalah anak tak berguna, anak bodoh dan lainnya. Berawal dari hal tersebut maka anak akan menjadi pesimis dalam belajar, pesimis dalam mencoba hal baru dan lain sebagainya. Kemudian akibatnya anak tidak dapat berkembang sesuai harapan.

            Kepercayaan diri ini menjadi penting karena terkadang seseorang punya potensi yang hebat tapi kemudian tidak tampil, tidak muncul karena kurang percaya diri untuk mengekspresikannya, sehingga potensinya hanya jadi milik nya sendiri, menunggu untuk ditemukan oleh orang lain, sementara orang-orang yang mungkin percaya diri untuk  lebih mengeksperikan diri, lebih bisa terlihat oleh orang lain, yang paling penting itu memunculkan potensi apa yang dimiliki, sehingga bisa mengembangkan dan mengoptimalkan kepercayan diri.

.
    Kepercayaan diri yaitu keyakinan akan kemampuan diri seseorang sehingga tidak mudah terpengaruh oleh orang lain dan dapat bertindak sesuai kehendak,gembira,optimis,cukup toleran, dan bertanggung jawab (Loutser,1992). Kepercayaan diri ini berhubungan dengan kemampuan melakukan sesuatu yang baik, karena pada dasarnya  manusia itu terbatas pada sejumlah hal yang dapat dilakukan dan kemampuan yang dikuasai.

Misalnya, ketika anak belajar menggambar sebagai orang tua perlu mensupport dan mengapresiasi prosesnya. Kebanyakan orang tua masih beranggapan bahwa ketika anak beberapa kali gagal maka anak itu akan dilabeli sebagai anak bodoh, tidak berbakat, tidak berkompeten dan lain-lain.
            Kesalahan pola asuh pada anak berakibat fatal bagi perkembangan anak, baik secara fisik maupun mental. sebagai orang tua wajib bagi kita untuk memastikan anak berkembang secara keseluruhan baik itu secara fisik maupun mentalnya. Kondisi fisik yang berkembang secara sehat ditandai dengan bugarnya tubuh seorang anak, bergerak aktif dan tumbuh sesuai dengan usianya. Sedangkan perkembangan mental yang baik adalah bertambahnya kedewasaan anak, kepercayaan diri dan lainnya.Percaya diri adalah suatu keyakinan seseorang terhadap segala aspek kelebihan yang dimiliki seseorang dan keyakinan tersebut membuatnya merasa mampu untuk bisa mencapai tujuan hidupnya. (Hakim, 2004:6).

Membangun kepercayaan diri pada anak :


1.     Mengajari Keterampilan yang di perlukan, agar anak berfungsi secara mandiri dan merasa kompeten, seperti menggunakan sepatu sendiri, membereskan barang-barangnya sendiri, dsb. 
2.     Mengingat Keberhasilan sebelumnya, agar ia menyadari perkembangan keterampilannya (Lebih mampu,lebih terampil,lebih berani),seperti membandingkan ia dengan hari pertama sekolah dsb
3.     Memberikan anak tanggung jawab,meningkatkan pengalaman dibutuhkan,mengakui,dan menghargai usahanya,seperti melibatkan anak untuk merapikan meja dsb.

 

Dalam menjalani kehidupan kepercayaan diri merupakan modal awal yang perlu dimiliki setiap orang. Dengan rasa percaya terhadap dirinya manusia akan yakin dan optimis dalam melakukan sesuatu, meskipun akan gagal rasa percaya untuk mencoba itu adalah sesuatu yang berharga. seseorang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi tampak sebagai sosok yang berani.

Peran Orang tua untuk mendukung kepercayaan anak

1.     Menjadi role model bagi anak
2.     Mendorong anak untuk mencoba hal yang baru
3.     Memberikan ruang untuk gagal
4.     Mengevaluasi kesahalan (hindari memarahi anak)
5.     Mengapresiasi proses yang dilalui anak
6.     Membantu anak menemukan minat/bakat
7.     Membantu anak menetapkan tujuan
8.     Melibatkan anak dalam kegiatan sehari-hari
9.     Mengenali kelebihan dan merangkul ketidaksempurnaan
10.  Menunjukkan cinta dan memberikan rasa aman

    Oleh karena itu, mulailah dengan dekati anak, pahami anak dan ajarkan mereka tentang kehidupan yang baik. Semakin percaya anak terhadap kehidupan yang baik maka mereka akan percaya dengan hidup dan percaya dengan dirinya. Begitupun sebaliknya, ketika anda menunjukkan sisi kejam dunia tanpa menunjukkan kebaikan didunia maka anak akan berkembang menjadi manusia yang penakut bahkan bisa menjadi brutal sebagai wujud perlawanannya.
 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Lkpd Masyarakat Indonesia pada Masa Hindu-Buddha dan Islam